Populasi Superkaya Indonesia Diprediksi Naik 81,7 Persen

Populasi orang superkaya Indonesia diproyeksikan meningkat 81,7 persen hingga 2031, menjadi pertumbuhan tertinggi di Asia Pasifik. Knight Frank Research memperkirakan jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas 30 juta dollar AS akan naik dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 orang.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan Jakarta Property Highlights H1 2026 yang dipaparkan di Jakarta, Kamis (6/8/2026). Meski jumlah kalangan ultrakaya diperkirakan bertambah pesat, pertumbuhan itu belum otomatis mendongkrak permintaan properti di Jakarta maupun kota-kota besar lain di Indonesia.

Di kawasan Asia Pasifik, laju pertumbuhan UHNWI Indonesia—individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi—diperkirakan mengungguli Vietnam yang mencapai 59 persen dan Australia sebesar 58,5 persen. Angka itu menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam proyeksi Knight Frank untuk lima tahun ke depan.

Pertumbuhan orang superkaya Indonesia tertinggi di Asia Pasifik

Head of Research Knight Frank Asia Pacific Christine Lie mengatakan, pertumbuhan kelompok ultrakaya di Indonesia, Vietnam, dan Australia antara lain dipengaruhi kebijakan pemerintah serta perpindahan kekayaan atau aset di sejumlah bagian dunia. Untuk Indonesia, besarnya populasi, sumber daya yang melimpah, dan peluang investasi jangka panjang turut menjadi faktor pendukung.

“Laju perkembangan UHNWI Indonesia paling cepat di seluruh kawasan Asia Pasifik,” kata Christine dalam pemaparan laporan tersebut.

Secara regional, Asia Pasifik menampung 30,7 persen populasi ultrakaya dunia, atau 219.310 orang. Jumlah itu berada di bawah Amerika Utara, yang mencakup 37 persen populasi UHNWI global.

China masih menjadi negara dengan jumlah individu ultrakaya terbanyak di Asia Pasifik, yakni 121.677 orang pada 2026. India berada di urutan berikutnya dengan 19.877 orang, disusul Jepang sebanyak 18.914 orang.

Dalam lima tahun mendatang, populasi UHNWI China diproyeksikan tumbuh 18,8 persen. India diperkirakan mencatat kenaikan 26,9 persen, sementara Jepang 14,4 persen. Dibandingkan proyeksi tersebut, lonjakan Indonesia terlihat jauh lebih tajam.

Lonjakan kekayaan belum sejalan dengan pasar properti

Namun, pertambahan orang superkaya belum tercermin dalam permintaan properti di Jakarta. Christine menyebut permintaan domestik untuk sejumlah jenis properti di ibu kota masih lebih rendah dibandingkan beberapa kota besar dunia, seperti Tokyo, Manila, Seoul, dan Mumbai.

Perubahan gaya hidup ikut menggeser cara kalangan ultrakaya memilih properti. Mobilitas mereka yang semakin tinggi membuat sebagian orang tak lagi terpaku pada lokasi kota tertentu, berbeda dari pandangan lama bahwa lokasi menjadi pertimbangan utama dalam investasi properti.

“Gaya hidup telah berubah. Banyak individu dengan kekayaan sangat tinggi berkeliling dunia sehingga mereka tidak lagi bergantung pada mindset lokasi properti,” ujar Christine.

Di tengah perubahan itu, hunian premium yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan semakin menjadi perhatian. Fasilitas lengkap, layanan berkualitas, privasi, serta penerapan prinsip hijau menjadi aspek yang dicari untuk mendukung gaya hidup penghuni.

Pergeseran tersebut membuka peluang bagi pengembangan hunian di luar pusat kota. Menurut Christine, pengembang dapat merespons kebutuhan baru dengan menyediakan fasilitas premium yang lengkap, bukan semata mengandalkan lokasi di kawasan pusat.

Hunian, perkantoran, dan logistik jadi sasaran investasi

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan, investasi properti yang dibidik kalangan ultrakaya di Indonesia terutama mencakup gedung perkantoran, kawasan industrial dan logistik, serta hunian. Di segmen rumah kelas atas dengan harga lebih dari Rp 5 miliar, pasar disebut masih bergerak.

Minat terhadap subsektor hunian juga ditopang kebutuhan di wilayah aglomerasi dan kota besar. Rumah tapak serta akomodasi mahasiswa menjadi jenis investasi yang banyak diminati, sementara Indonesia masih menghadapi kekurangan rumah sebanyak 13 juta unit.

Untuk mendorong pasar, Christine menilai investasi langsung dari luar negeri dapat membawa modal sekaligus mendukung perkembangan infrastruktur dan permintaan. Malaysia, India, dan Vietnam disebut sebagai contoh pasar properti regional yang berhasil menarik banyak investasi asing.

Pertambahan kekayaan, pada akhirnya, menjadi peluang sekaligus tantangan: kapital perlu diarahkan agar tak berhenti sebagai kekayaan individu. Jika mampu mengalir ke kegiatan produktif dan industri manufaktur, dampaknya berpotensi menjalar ke sektor lain, termasuk properti. Pengembang dan pelaku usaha kini perlu membaca perubahan kebutuhan itu agar pertumbuhan jumlah ultrakaya ikut menggerakkan ekonomi yang lebih luas.

Guillermo del Toro Bela Digger di Tengah Kritik

OJK Ungkap Pemicu IHSG Melemah 29,24% pada 2026